Showing posts with label Syiah. Show all posts
Showing posts with label Syiah. Show all posts

Wednesday, December 1, 2010

Polemik Gambar Pemimpin Syiah Berkucupan

Berikut adalah penjelasan yang diberikan oleh pihak pejabat Sheikh Yasser al-Habib di London melalui e-mail terhadap soalan saya mengenai gambar-gambar yang kononnya menunjukkan pemimpin-pemimpin Syiah bercium mulut sesama lelaki.

Ini adalah kerja orang yang berniat jahat - memanipulasikan gambar. Gambar-gambar sebegini banyak tersebar di dalam internet, website dan juga Facebook.

Di bawah ini adalah salinan e-mail yang dihantar kepada saya :

In His Name the Most High, All praise is due to Allah, may peace be upon Muhammed and his pure progeny and may the curse of Allah be upon their enemies.

The Office Answer :

Assalamu Alaikum, Dear brother, firstly we apologise for the delay in replying to your enquiry due to some circumstances beyond the office control. Secondly, in regards to your enquiry, this is one of the - exposed - misleading activities carried out by the Bakri and Wahabi groups.

They choose a set of shots taken from specific angles in which it appears as if man 'A' - in the taken shot - is kissing man 'B' on his lips. However, this is not the case, when the two men greet each other - as usual - they lean forward and turn their faces to either side (i.e. right or left in alternation).

If the camera angle was focused on the two men, then one of the taken shots would show the closeness of man A's lips to man B's as they switch to either side. Thus, you find the opponents of Ahlulbayt exaggerating and lying and claiming otherwise. May Allah kill them!

How deviated they are! 29th Sha'ban 1431 The Office of Sheikh al-Habib in London Di bawah ini ada beberapa contoh gambar yang membuatkan golongan-golongan Bakri, Wahhabi dan Nawasib bersorak keriangan kerana mereka menyangka mereka berjaya mengenakan kita semua

: Semoga Allah melaknat musuh- musuh Ahlul Bayt!

Wednesday, August 18, 2010

Para Ksatria Karbala

ImagePerjalanan sejarah telah dipenuhi oleh figur-figur teladan dan tokoh-tokoh besar yang namanya abadi dan tindak-tanduknya layak diteladani. Lembaran hidup mereka mementaskan kepahlawanan, kedermawanan, keramahan, dan kebesaran. Di saat-saat genting sekalipun, kebesaran jiwa mereka tetap menjadi panutan. Kisah tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala meski menjadi luka yang dalam bagi umat Islam sepanjang sejarah, namun penuh dengan hikmah. Tragedi Karbala adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara kemanusiaan dan kebinatangan, antara kemuliaan dan kehinaan, antara kebebasan dan keterbelengguan.
* * *
Hurr bin Yazid Al-Riyahi
Di padang tandus Nainawa, figur-figur besar semisal Hurr bin Yazid Al-Riyahi, Habib bin Madhahir, Ali bin Al-Husein, Wahb bin Abdullah dan lainnya mengajarkan kepada umat manusia di sepanjang zaman tentang makna sejati dari kebesaran, keberanian, kepahlawanan, kehormatan, dan kesetiaan. Pada kesempatan kali ini, kami akan membawa Anda ke masa itu, saat lakon-lakon Karbala mementaskan drama kesucian. Kami akan mengajak Anda untuk mencermati fragmen-fragmen yang mereka mainkan.
Hurr bin Yazid Al-Riyahi, komandan pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Dengan sekitar seribu orang yang dipimpinnya, Hurr mendapat perintah untuk menghadang gerak Imam Husein dan rombongannya yang sedang menuju Kufah dan menggiring mereka menghadap Ibnu Ziyad. Untuk beberapa hari pertama setelah pasukannya berhadapan dengan rombongan Imam Husein a.s, mungkin Hurr dipandang sebagai orang yang paling berdosa terhadap keluarga Nabi itu. Sebab dengan menjalankan perintah demi perintah yang diterimanya dari Ibnu Ziyah, Hurr telah membuat posisi Imam Husein dan keluarganya terjepit sampai mereka kehabisan air minum.

Namun sikap hormatnya kepada keluarga Rasul dan kebesaran jiwanya telah membuat dia terbangun dari tidur yang hampir membuatnya celaka. Hurr sadar bahwa dia berada di tengah pasukan yang berniat membantai Al-Husein dan keluarganya. Jika tetap bersama pasukan ini berarti dia akan mencatatkan namanya dalam daftar orang-orang terlaknat sepanjang masa. Hurr melihat dirinya berada di persimpangan jalan. Dia harus memilih, mati tercincang-cincang dengan imbalan surga atau selamat dan kembali ke keluarga dengan membawa cela dan janji akan siksa neraka. Hurr memilih surga meski harus melewati pembantaian sadis pasukan Ibnu Ziyad.
Dengan langkah mantap Hurr memacu kudanya ke arah perkemahan Imam Husein a.s. Semua mata memandang mungkinkah Hurr komandan yang pemberani itu akan menjadi orang pertama yang menyerang Imam Husein? Namun semua tercengang kala menyaksikan Hurr bersimbuh di hadapan putra Fatimah dan meminta maaf atas kesalahannya. Sebagai penebus kesalahannya, Hurr bangkit dan dengan gagah berani mencabik-cabik barisan musuh. Hurr gugur sebagai syahid dengan menghadiahkan darahnya untuk Islam. Imam Husein memuji kepahlawanan Hurr dan mengatakan, “Engkau benar-benar orang yang bebas, seperti nama yang diberikan ibumu kepadamu. Engkau bebas di dunia dan akhirat.”
Muslim bin Ausajah
Muslim bin Ausajah termasuk kelompok orang-orang tua yang berada di dalam rombongan Imam Husein. Muslim adalah sahabat Nabi yang keberanian dan kepahlawanannya di berbagai medan perang dipuji banyak orang. Ketika Imam Husein mengumumkan rencananya untuk bangkit melawan pemerintahan Yazid, Muslim bin Ausajah mendapat tugas mengumpulkan dana, membeli senjata, dan mengambil baiat warga Kufah. Di padang Karbala, ketuaan Muslim sama sekali tidak menghalangi kelincahan geraknya. Satu-persatu orang-orang yang berada di hadapannya terjungkal. Akhirnya pasukan Ibnu Ziyad mengambil insiatif untuk menghujaninya dengan batu. Muslim tersungkur bersimbah darah. Sebelum melepas nyawa, dia memandang sahabatnya, Habib bin Madhahir dan berpesan untuk tidak meninggalkan Imam Husein.
Habib bin Madhahir
Di Karbala, Habib bin Madhahir mungkin yang paling tua diantara para sahabat Imam Husein. Meski tua, Habib adalah pecinta sejati Ahlul Bait. Kehadirannya di tengah rombongan keluarga Nabi memberikan semangat tersendiri. Di malam tanggal sepuluh Muharram, atau malam pembantaian, wajah Habib terlihat berseri-seri. Tak jarang dia melempar senyum kepada anggota rombongan yang lain. Ada yang mempertanyakan mengapa dia tersenyum di malam yang mencekam ini? Habib menjawab, “Ini adalah saat yang paling indah dan menyenangkan. Sebab tak lama lagi, kita akan berjumpa yang Tuhan.”
Di bawah terik mentari Karbala, Habib berlaga di tengah medan. Usia lanjut tidak menghalangi kelincahannya memainkan pedang. Habib sempat melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan keberanian dan kesetiannya kepada Nabi dan kebenaran risalah Nabi. Jumlah pasukan dan kelengkapan militer yang ada di pihak musuh tidak membuatnya gentar. Sebab baginya, kemenangan bukan hanya kemenangan lahiriyah. Kematian di jalan Allah adalah kemenangan besar yang didambakan para pecinta seperti Habib. Ayunan pedang tepat mengenai kepala putra Madhahir dan membuatnya terjungkal. Darah segar membahasi janggutnya yang putih. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Habib sempat melempar senyum ke arah Al-Husein yang memberinya kata selamat menjumpai surga. Habib gugur setelah melagakan kepahlawanan dan kesetiaan.
Nafi’ bin Hilal
Nafi’ bin Hilal, adalah pahlawan Karbala yang dikenal sebagai perawi hadis, qari, dan sahabat dekat Imam Ali a.s. Kesetiaannya kepada Ahlul Bait telah ia tunjukkan dalam perang Jamal, Siffin, dan Nahrawan dalam membela Imam Ali a.s., ayah Imam Husain. Di Karbala, bersama Abul Fadhl Abbas dan lima puluh orang sahabat Imam Husein, Nafi’ memporak-porandakan barisan musuh untuk sampai ke sungai Furat. Setelah melalui pertempuran sengit, pasukan Imam Husein berhasil mengambil air dan mengirimnya ke perkemahan. Sahabat setia Al-Husien ini dikenal sebagai pemanah mahir. Setelah berhasil membunuh 12 orang dan melukai beberapa orang lainnya, Nafi’ bin Hilal gugur sebagai syahid.
Burair bin Khudhair
Di tengah pasukan Imam Husein yang hanya berjumlah beberapa puluh orang, terdapat beberapa orang yang dikenal sebagai orang ahli ibadah dan zuhud, diantaranya adalah Burair bin Khudhair. Warga Kufah amat menghormati Burair dan menyebutnya sebagai guru besar Al-Qur’an. Ketinggian iman Burair tampak di malam Asyura. Burair yang biasanya jarang bergurau, malam itu menggoda Abdurrahman Al-Anshari, salah seorang sahabat Imam Husein. Kepadanya Abdurrahman berkata, “Wahai Burair, malam ini tidak sewajarnya engkau bergurau.” Burair menjawab, “Sahabatku, tahukah engkau bahwa sejak muda aku tidak gemar bercanda. Tapi malam ini aku sangat bahagia. Sebab jarak antara kita dan surga hanya beberapa saat. Kita hanya perlu sejenak menari-narikan pedang untuk menyambut pedang-pedang musuh mencabik-cabik tubuh kita, lalu terbang ke surga.” Burair gugur syahid dan namanya abadi. Dia telah mengajarkan kesetiaan kepada agama dan kecintaan kepada Allah, Rasul dan Ahlul Bait.
Kemenangan dalam berjuang tidak selalu berbentuk kemenangan lahiriyah. Adakalanya gugur dalam perjuangan juga merupakan sebuah kemenangan besar. Tak salah bila ada pepatah yang mengatakan: darah mengalahkan pedang. Kisah Karbala adalah salah satu contohnya. Meski sejak awal, seluruh anggota rombongan Imam Husein telah mengetahui bahwa mereka adalah kafilah yang bergerak menuju kematian, tetapi cita-cita luhur dan keyakinan akan kemenangan dengan syahadah membuat mereka mantap melangkah. Kami masih bersama Anda dengan pembicaraan seputar tokoh-tokoh kebangkitan Asyura dan drama yang mereka pentaskan di Karbala. * * *
Ali Akbar bin Husain as
Ketika rombongan Imam Husein memasuki padang Karbala, terlihat barisan pasukan Ibnu Ziyad yang berbaris bagai batang-batang korma di tengah sahara. Menyadari bahwa ribuan orang bersenjata lengkap yang berada di sana berniat membantai Al-Husein dan keluarganya, Ali Akbar putra Imam Husein bertanya kepada ayahnya, “Ayah, bukankah kita berada di pihak yang benar?” Imam menjawab, “Iya.” Mendengar jawaban itu Ali Akbar berseru, “Kalau begitu tidak alasan bagi kita untuk merasa ragu dan gentar.”
Saat Ali Akbar maju ke medan tempur untuk menunjukkan kesetiaannya kepada sang ayah dan imam yang ia ikuti, Al-Husein dengan berlinang air mata memandang nanar ke arah putranya dan berkata, “Ya Allah, saksikankah pemuda yang paling mirip wajah, tutur kata dan perangainya dengan Rasul-Mu, kini maju ke medan tempur. Selama ini, kami mengobati kerinduan kepada Nabi dengan memandangnya. Ya Allah, jauhkan mereka dari barakah bumi ini dan cabik-cabiklah barisan mereka.”
Ali Akbar maju dan dengan gesit dia menari-narikan pedangnya. Beberapa orang yang menghadangnya terjerembab ke tanah terkena sabetan pedang putra Al-Husein. Tak lama kemudian, kisah kepahlawanan dan kesetiaan Ali Akbar menjadi lengkap setelah sebilah pedang mendarat di tubuhnya. Ali Akbar jatuh tersungkur dan musuh-musuh berhamburan menyambutnya dengan mendaratkan pukulan pedang bertubi-tubi ke tubuh pemuda tampan itu. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Ali Akbar berseru kepada ayahnya dengan mengatakan, “Ayah, Rasulullah telah memberiku air. Beliau menunggu kedatanganmu.” Cucu Rasul itu gugur syahid dengan meninggalkan pelajaran berharga tentang kesetiaan dan pengorbanan dalam membela kebenaran.
Qasim bin Hasan as
Mungkin kisah Qasim putra Imam Hasan as di Karbala adalah kisah yang paling menarik tentang kesetiaan dan pengorbanan. Kemenakan Imam Husein yang saat itu masih sangat belia, yaitu berusia kurang dari lima belas tahun, telah menyuguhkan pelajaran yang amat berharga. Di hari Asyura, saat pembantaian di Padang Karbala berlangsung, Qasim menatap pilu medan laga. Imam Husein mendatanginya dan bertanya, “Qasim, bagaimana engkau memandang kematian?” Qasim menjawab, “Kematian bagiku lebih manis dari madu.” Ya, remaja belia yang terdidik di rumah kenabian dan wilayah itu telah hanyut dalam cinta rabbani dan tak sabar menunggu saat-saat yang paling indah bertemu dengan sang Pencipta. Qasim maju ke medan laga dan gugur sebagai syahid.
Jaun bin Abi Malik
Jaun bin Abi Malik, adalah bekas budak Abu Dzar Al-Ghifari yang kemudian mengabdi di rumah Imam Ali, Imam Hasan, dan terakhir di rumah Imam Husein as. Di siang hari Asyura, Jaun dari dekat menyaksikan dan merasakan penderitaan yang dialami oleh keluarga Nabi dan para pengikut setia mereka di Padang Karbala. Meski tidak terlibat dalam konflik, Jaun tidak mau tinggal diam. Dia bangkit dan meminta ijin kepada Imam Husein untuk mempersembahkan darahnya dalam membela keluarga Nabi. Imam Husein yang terkenal bijak mengatakan, “Wahai Jaun, jangan celakakan dirimu. Engkau telah kumerdekakan.”
Jaun menangis, dan sambil mencium kaki tuannya, dia berkata, “Tuanku, selama ini aku hidup sejahtera di rumahmu. Aku tidak bisa tinggal diam menyaksikan engkau dan keluargamu menghadapi kesulitan ini. Demi Allah aku tidak akan meninggalkanmu sampai darahku bercampur dengan darahmu yang suci.” Budak berkulit hitam itu menunjukkan kesetiaan seorang hamba kepada tuannya. Jaun mengajarkan makna sejati dari balas budi. Setelah mendapat ijin, bekas budak Abu Dzar itu maju ke medan laga dan mempertontonkan semangat pengorbanan untuk keluarga Rasul. Untuknya Imam Husein berdoa, “Ya Allah putihkan wajahnya, masukkanlah ia ke dalam golongan orang-orang yang baik dan jangan pisahkan dia dari keluarga Muhammad.”
Wahb bin Abdullah
Wahb bin Abdullah adalah salah seorang pengikut setia Imam Husein. Sebelum bertemu Imam Husein, Wahb adalah pengikut agama Nasrani. Di tangan Imam Husein, dia dan ibunya masuk Islam. Saat berada di padang Karbala bersama Imam Husein, Wahb baru 17 hari menikah. Sebagai bukti kesetiaan kepada penghulu pemuda surga dan pemimpin umat itu, Wahb maju ke medan tempur. 24 penunggang kuda dan 24 prajurit pejalan kaki berhasil ditumbangkannya. Namun Wahb berhasil ditangkap dan dibawa menghadap Umar bin Saad komandan pasukan Ibnu Ziyad.
Wahb gugur syahid setelah Ibnu Saad mengeluarkan perintah pemenggalan kepalanya. Kepala tanpa badan itu dikirim ke perkemahan Imam Husein. Ibu Wahb dengan bangga mencium kepala anaknya yang gugur dalam membela kebenaran. Kepala itu dilemparkannya ke arah musuh sambil berkata, “Aku tidak akan mengambil kembali apa yang telah kupersembahkan untuk Islam.” Tak cukup dengan persembahan itu, wanita tua itu mengambil sebatang kayu dan berlari ke arah musuh. Ibu Wahb ingin menyusul anaknya yang telah mendahuluinya terbang ke surga. Namun Imam Husein mencegahnya dan mendoakan kebaikan untuknya.
Kisah pengorbanan sahabat Nabi dalam perang Uhud yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup untuk melindungi Rasulullah, terulang kembali di padang Karbala. Di hari Asyura, pasukan Ibnu Ziyad tidak memberikan kesempatan kepada Imam Husein dan para sahabatnya untuk melaksanakan kewajiban shalat. Saat Imam Husein berdiri untuk mengerjakan shalat berjemaah dengan para sahabatnya, Said bin Abdillah Al-Hanafi berdiri melindungi putra Fatimah itu dari terjangan tombak dan anak panah yang meluncur ke arah Imam Husein. Tubuh Said dipenuhi oleh tombak dan anak panah.
Said roboh. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya ia berkata, “Ya Allah, sampaikan salamku kepada Nabi-Mu Muhammad. Katakan kepada beliau bahwa luka-luka di sekujur tubuhku ini kudapatkan ketika melindungi dan membela cucu kesayangannya yang tengah memperjuangkan agama dan kebebasan.” Mata sayu Said untuk beberapa saat memandang wajah pemimpinnya. Dia berkata, “Wahai putra Rasulullah, apakah aku sudah melaksanakan janji setiaku?” Imam Husein menjawab, “Ya, engkau telah mendahuluiku masuk ke surga.”
Abis bin Abu Syubaib Al-Syakiri
Kisah Abis bin Abu Syubaib Al-Syakiri di Karbala adalah kisah cinta yang luhur. Selain dikenal pemberani dan piawai dalam bertarung di medan tempur, Abis juga terkenal sebagai ahli ibadah dan rajin melaksanakan shalat tahajjud. Di malam Asyura, Abis mendatangi kemah Imam Husein. Kepada beliau, Abis mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang kucintai dan aku hormati lebih dari dirimu, wahai putra Rasulullah. Jika ketulusan cinta ini dapat aku tunjukkan dengan mengorbankan sesuatu yang lebih berharga dari jiwa dan ragaku, pasti akan kulakukan.” Abis gugur syahid setelah pasukan musuh yang kewalahan dalam menghadapinya, menghujaninya dengan batu-batuan.

Tuesday, August 17, 2010

Syiah Aceh

http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/008/15.html

Oleh: Dr. Hasballah M Saad

ADAKAH pemeluk Syiah di Aceh? Ini perlu dipertanyakan ketika banyak sekali simbol-simbol “Syiah” ditemukan, dan sangat menonjol di kehidupan sehari hari masyarakat Aceh.
Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Shir Duli. Dalam hikayat-hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dan seterusnya. Kata Syahir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi melayu di Malaysia.
Asal kata shir, datangnya dari keluarga bangsawan di kawasan Persia, dan sekitanya. Maka putri Raja Persia yang setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab. Belakangan nama menantu Ali itu berubah menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi isteri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Muawiyah di Karbala pada 10 Muharam. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud (shalat).
Dalam hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedy yang jadi sejarah hitam umat Islam, karena darah titisan Rasul saw tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya khalifah kaum muslimin. Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri Asyura secara turun temurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu pangulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan airmata tatkala cerita sampai kepada pembantaian anak cucu Rasulullah saw itu.
Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik:
//”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan bandum di yue tron/ Lengkap ban ban dum alat senjata”// ( Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/ Nak dihabisi cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata.)
Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalam bentuk tari tarian. Di antaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol symbol Karbala . “Tumbok Tumbok Droe”(memukul mukul dada sendiri) dilakukan oleh para pemain Saman Aceh (juga dalam seudati) sebagai symbol penyesalan Karbala . Seluruh gerak tari Saman itu diilhami oleh kepedihan, penyesalan, dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Muawiyah.
Di Iran, dan beberapa kawasan sekitar benua Persia itu, amat lazim dijumpai perempuan dan laki laki memukul mukul dada hingga ada yang berdarah untuk mengenang peristiwa Karbala di hari Asyura, setiap tahunnya. Dalam naskah hikayat Muhammad Nafiah, yang mengisahkan peran adik laki laki Hasen bin Ali dari lain ibu, yasng menuntut bela atas syahidnya Husen di Karbala, jelas sekali dilukiskan bagaimana pengikut Yazid “dikafirkan” oleh sang penulis hikayat itu. Tatkala Muhammad Nafiah ingin mengeksekusi mati seorang lagi perempuan hamil yang masih hidup, sementara yang lain sudah dibunuh semua, maka turunlah suara dari manyang (langit).
//”Sep ka wahe Muhammad Nafiah, bek le tapoh kaphe ulu/ Bah tinggai keu bijeh, agar uroe dudoe mangat na asoe neuraka”// ( “Cukup sudah wahai Muhammad Nafiah, jangan lagi dibunuh kafir hamil itu/ agar dia beranak pinak lagi untuk isi nereka kelak”)
Karensa Muhammad Nafiah ingin mengabaikan perintah penghentian pembantaian itu, maka tiba tiba dia dan kudanya diperangkap oleh kekuatan sghaib. Lalu terkurunglah dia bersama kudanya dalam sebuahgua batu. //Muhammad Nafiah lam guha bate/ Sinan meu teuentee dua ngen guda// (Muhammad Nafiah dalam gua batu/ Terkurung disitu bersama kudanya).
Dalam bagian lain, dikisahkan bahwa pada suatu hari, ketika Muhammad Nafiah masih kecil, Ali bin Abi Thaleb membawa pulang ke Madinah anak laki lakinya itu dan duduk-duduk bercengkerama bersama Rasul dan dua kakaknya lain ibu, Hasan dan Husen. Rasulullah saw mendudukkan Hasan dan Husen di pangkuan sebelah kiri, sementara Muhammad Nafiah duduk di atas paha kanan Rasulullah. Tatkala Fatimah, ibunnya Hasan dan Husen melintas, dia bermasam muka karena melihat justru putra Ali yang bukan berasal dari rahim Fatimah mendapat tempat di sebelah kanan Rasulullah, sementara putra-putranya, Hasan dan Husen duduk di paha kiri Rasul.
Rasul memandang wajah masam Fatimah az-Zahra, putri kesayangannya itu. Lalu Rasul memanggil Fatimah, dan bersabda:
“Wahai anakku, janganlah bermasam muka. Yang ini, sambil menunjuk Hasan dan Husen, akan menemui ajal kelak ketika kita sudah tiada, karena dibunuh orang. Yang inilah, sambil menunjuk Muhammad Nafiah, yang akan menuntut bela atas kematian kedua mereka ini, maksudnya Hasan dan Husen. Jibrail telah menyampaikann hal itu kepadaku wahai Fatimah”
Mendengar ucapan Rasul waktu itu, barulah wajah Fatimah kembali berseri seperti sediakala. Ada pesan Jibrail kepada Rasulullah atas peristiwa yang bakal terjadi atas anak cucunya setelah Rasul dan Fatimah tiada kelak. Begitu mulianya kedudukan Muhammad Nafiah, putra Ali dari isteri lain, (mungkin hasil perkawinan mut‘ah dalam peperangan yang lama).
Hikayat itu telah menjadi bacaan sehari-hari kaum muslimin di Aceh. Dalam benak orang Aceh, kafir perempuan yang hamil tua itu, meskipun dia adalah pemeluk agama Islam, namun dipandang sebagai kafir karena dia pengikut Yazid bin Muawiyah. Dan inilah cikal bakal kafir sekarang ini yang akan menjadi pengisi neraka kelak. Wallahu ’aklamu bis-shawab!
Jika dibandingkan dengan cerita tentang kehebatan Amerika dalam film-film perang mereka dengan Vietnam umpamanya, muncul kesan publik bahwa Amerik-lah yang paling jagoan, meskipun semua orang tahu pada akhirnya dia harus angkat kaki dari negara bekas jajahan Perancis itu, meskipun orang Vietnam melawan dengan bambu runcing. Tak ada catatan sejarah yang akurat tentang Muhammad Nafiah yang menghabiskan seluruh pasukan Yazid di Kufah, namun hikayat itu justru mengisahkan yang tinggal hanya seorang “kaphe ulu” (maaf: hamil) yang anak turunannya menjadi cikal bakal penghuni neraka kelak.
Saya bisa memahami bagaimana kepedihan kaum muslimin katika Husen syahid, dan perasaan itu dihibur dengan pembelaan yang gemilang oleh cerita kemenangan Muhammad Nafiah bin Sayyidina Ali, setelah Husen dan pengikutnya syahid di Karbala. Ini juga menjadi bukti terhadap apa yang diriwayatkan, tentang cerita Fatimah bermasam muka, karena Hasan Husen diletakkah di atas paha kiri Rasulullah, ketika mereka masih kecil dulu dan Muhammad Nafiah justru di paha kanan Rasul.
Dalam tradisi Aceh, hikayat berbentuk hiburan yang selalu mengandung pesan, nasihat, sumber pengetahuan, sejarah serta agama. Hikayat Hasan Husen, Nubuwat Nabi, Fatimah Wafat, Muhammad Nafiah dan lain-lain merupakann bacaan rakyat yang utama disamping hikayat-hikayat lain seperti Putroe Gumbak Meuh, Peurakoison, Nun Farisi, Indra Budiman, Indra Bangsawan, Baya Siribee dan lain-lain. Kala itu memang belum ada novel Lasjkar Pelangi, atau Sang Pemimpi, atau Ayat-ayat Cinta dan sebagainya. Sinetron pun belum dikenal oleh masyarakat Aceh lama. Maka cerita dalam hikayatlah yang menjadi referensi perilaku, sumber nasehat, dan pengetahunan sejarah bagi masyarakat luas.
Di kawasan pantai barat Aceh, termasuk utamanya Aceh Selatan, berkembang kesenian tradisional “Pho” Tari pho dimainkan oleh sejumlah anak anak gadis remaja, dengan mendendangkan syair penuh nuansa sendu, seumpama orang meratapi kematian. Dalam format khusus, gadis remaja menyusun format berkeliling melingkar, dan meratapi sesuatu, bagaikan meratapi kematian. Ingatlah bagaimana masyarakat Aceh memperingati “Asyura” dengan nyanyian dan hikayat Hasan Husen, semua dilantunkan dalam irama pilu penuh duka lara.
Di komunitas lain di Pidie, agak menarik disimak rentetan nama-nama anggota keluarga Sayed (Habib). Sebut saja berawal dari Nama Sayed Idris alias Teungku Syik di Keude, memiliki tiga anak laki laki dan dua anak perempuan. Yang laki laki bernama Sayed Hasyem, Sayed Husen, Sayed Abidin (Zainal Abidin), sementara anak perempuannya bernama Cutwan Dhien dan Cutwan Samalanga (nama aslinya tidak dikenal lagi). Sayed Husen berputrakan Sayed Abubakar, Sayed Puteh, dan Sayed Bunthok, sementara yang perempuan bernama Cutwan Syarifah, Cutwan Manyak dan Cutwan Fatimah.
Sayed Zainal Abidin mempunyai seorang putri tunggal bernama Ummi Kalsum (Cutwan Kasum) Dari perkawinannya dengan saudara sepupu, Sayed Abubakar, Cutwan Kasum memiliki saeorang putri tunggal diberi nama Cutwan Fatimah, yang menikah dengan Sayed Ali bin Sayed Abdullah Bambi. Sayed Abdullah Bambi menikah dengan Cutwan Khadijah binti Habib Husen Az-Zahir. Sementara kakak Cutwan Khadijah bernama Habib Hasan dan Habib Ahmad Sabil. Khadijah sendiri berputrakan selain Sayed Ali adalah Sayed Muihammad, dan Aja Rohani.
Sementara Habib Hasyem alias Habib Peureumbeue, mempunyai beberapa orang putra, antara lain Sayed Ahmad (Pak Mukim) Sayed Abdullah, dan yang perempuan bernama Cutwan Khadijah pula. Cutwan Khadijah menikah dengan Habib Ahmad Mon Keulayu, dan berputrakan antara lain Sayed Hasan, Sayed Husen, Sayed Aabdurrahman, Sayed Alwi, Sayed Ali dan Sayed Jamaluddin. Simaklah putaran nama-nama itu, semuanya berkisar sekitar nama keluarga Rasulullah, mulai dari Hasyem, Abdullah, Khadijah, Ahmad (Muhammad) Ali, Fatimah, Hasan, Husen, Umi Kalsum, Zainal Abidin, Abubakar, dan seterusnya. Sementara masyarakat umum yang bukan keturunan Sayed, selalu memberikan nama anak-anak mereka dengan nama-nama Abbas, Hamzah, Aminah, Thaleb, Zainab, Rukaiyah, disamping nama-nama seperti yang saya sebutkan itu.
Apakah fenomena ini dapat dijadikan indikasi bahwa para pemilik nama-nama itu merupakah pengikut Syiah Aceh? Apakah nama-nama demikian karena menasabkan diri pada keturunan Rasulullah? Atau telah terjadi pertalian dua kepentingan, petama menasabkan diri pada darah nabi, dan kedua melestarikan nama-nama yang dikenal sebagai nama ahlul bait yang utama? Tentu hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.
Simak pula, kisah yang selalu dilantunkan pada bulan Muharram (bulan dimana syahidnya Sayyidina Husen di Karbala):
//”Bak siploh uroe buleueun Muharram/ Kesudahan Husen Jamaloe (Jamalul/ Peu na mudah ta khanduri / Po Tallah bri pahla dudoe”// ( “Sepuluh hari bulan Muharram/ Kesudahan Husen Jamalul/ Jika ada kemudahan agar ber khanduri/ Allah memberi pahla nantinya”)
Bagaimanan jika disimak praktek ritual ibadah wajib seperti shalat lima waktu, puasa, zakat dan haji? Orang Aceh semuanya mengikuti praktek ibadah kaum Sunni, sebagaimana lazimnya kaum muslimin di tempat-tempat lain di Indonesia. Namun bacaan shalawat kepada Nabi dan keluarganya, selalu diucapkan dengan menambahkan kata Sayyidina di depan nama Muhammad, dan Ibrahim. “Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad, wa ’ala ali Sayyidina Muhammad, kama shallaita ala Sayyidina Ibrahim, wa ala ali Sayyina Ibrahim, dan seterusnya”. Hal ini amat ditentang oleh pengikut Wahabi yang sangat anti terhadap praktek ibadah seperti memuja nama Rasul itu dengan meletakkan nama Sayyidina di depan nama-nama mereka.
Saya hampir sampai pada kesimpulan bahwa orang Aceh itu pencinta Ahlul Bait yang sangat setia, kalaupun mereka tidak pernah mengaku sebagai pengukut syi‘ah. Bukankah pada masa tertentu dalam sejarah Islam, kaum syi‘ah meperkenalkan istilah taqiyah (bersembunyi) dan dari itu lahirlah ungkapan, bahwa orang yang mengaku dirinya syi‘ah bukanlah syi‘ah lagi”
Simaklah sebuah cerita lucu tapi mengharukan, yang berlaku dalam satu keluarga miskin dan buta huruf di sebuah desa di Aceh pada tahun 1950-an. Tersebutlah nama Waki Saad Gapui, yang menikah dengan perempuan desa buta huruf, Maimunah namanya. Mereka berputrakan beberapa orang dan semua laki-laki. Saad adalah penggemar hikayat Hasan Husen, seperti juga penduduk kampung lainnya. Maka dalam hikayat itu dikisahkan begini:
“Hasan dan Husen cuco di Nabi/ Aneuek tuan Siti Fatimah Dora/ Tuan teu Husen Syahid dalam Prang / Tuan teu Hasan syahid ji tuba/ Syahid di Husen ka keunong beusoe/ Di Hasan sidroe keunong bencana (racun)/ Tuan teu Husen syahid dalam Prang/ Tuan teu Hasan di rumoh tangga”//
Terkesima dengan keagungan nama yang disebut dalam bait hikayat itu, Saad sepakat memberikan nama-nama anaknya seperti nama-nama cucunda Nabi. Yang tertua diberi nama Hasan (Keuchik Hasan) yang kedua diberi nama Dan (Apa Dan) dan yang ketiga diberi nama Husen (meninggal waktu kecil). Maka kalau dibaca dalam satu nafas menjadi Hasan Dan Husen dilanjutkan dengan Cuco di Nabi. Padahal kata sambung itu bukan nama orang. Saad tidak peduli, dan nama anak keduanya tetap saja DAN, meskipun ketika dewasa nama itu menjadi Mad Dan, karena kesulitan menulis nama dalam KTP. Lalu adik-adiknya diberi nama Sulaiman (nama Nabi), Ibrahim (nama Nabi), Zainal Abidin (nama putra Husen) dan Abdul Hamid. Apa yang terjadi dalam kehidupan kejiwaan Saad? Meskipun buta huruf dan petani biasa, Saad merasa sangat dekat dengan kehidupan Rasulullah, sehingga kumandang nama Ahlul Bait selalu terdengar dalam keluarga mereka. Saya merasa yakin, seandainya Saad memiliki anak perempuan, pasti akan diberi nama Khadijah, Fatimah atau Aminah!
Pertanyaannya kini adalah, apakah, sekali lagi, hal ini dapat dijadikan indikator bahwa orang Aceh baik keturunan Sayyed, atau orang biasa dapat disebut pengukut Syi‘ah? Atau dengan sebutan lain, apakah mereka ini bisa dipanggil dengan sebutan Syi‘ah Aceh? Saya sendiri cenderung berfikir demikian. Namun agar praduga ini cukup memiliki hujjah yang kuat, perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam tentang fenomena yang saya uraikan dalam tulisan ini. Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa Islam yang mula-mula masuk ke Aceh justru berasal dari para Ahlul Bait yang hijrah karena tekanan politik dinasti Ummayah (turunan Muawiyah bin Abu Sofyan) terhadap keturunan Sayyidina Ali yang belakangan dikenal dengan kaum Alawiyin, pengikut Ali yang sepupu dan menantu Rasulullah.
Ingatlah pula bahwa pada saat haji wadak, Rasul pernah berkata di hadapan jama‘ah yang bergerak kembali ke Madinah setelah selesai berhaji. Rasul sawa sambil mengangkat tangan Ali, Rasul bersabda, “Wahai saudaraku kaum muslimin, aku dengan dia (sambil menunjuk Ali) bagaikan Musa dengan Harun, jika sesudah ku masih ada nabi, maka dialah orangnya. Namun karena tak ada nabi sesudahku, maka dialah penerusku. Kau saksikankah ucapanku ini wahai sekalian manusia?” kata Rasul dibukit Ghadir Khum itu. Maka dari turunan Sayyidina Ali itulah, kaum Alawiyin membangsakan diri. Wallahu a‘lamu bis-shawab.
*) Penulis adalah pemerhati sejarah dan kebudayaan, pegiatan Aceh Cultur Institut (ACI)

Monday, July 19, 2010

Telegraph: Ahmadinejad Keturunan Yahudi?

Telegraph.co.uk—harian berita dari Inggris—menurunkan berita yang cukup mengejutkan. Sebuah foto Presiden Iran Ahmadinejad sambil mengangkat kartu identitasnya selama pemilihan umum Maret 2008 dengan jelas menunjukkan keluarganya memiliki akar Yahudi. Dokumen close-up itu mengungkapkan dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian – atau kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi. 
 
Sebuah catatan pendek yang tertulis di kartu itu menunjukkan keluarganya berubah nama menjadi Ahmadinejad, ketika mereka dikonversi untuk memeluk Islam setelah kelahirannya. Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad, dan nama itu diturunkan dari "penenun dari Sabour", nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Nama ini, ada dalam daftar nama cipta untuk orang Yahudi di Iran, menurut Departmen Dalam Negeri Iran.

Ali Nourizadeh, dari Pusat Studi Arab dan Iran, mengatakan: "Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak tentang dirinya. Dengan membuat pernyataan-pernyataan anti-Israel, ia sedang mencoba untuk menumpahkan kecurigaan tentang hubungannya dengan Yahudi. Ia merasa rentan dalam masyarakat Syiah yang radikal."
Seorang ahli yang berpusat di London Yahudi Iran mengatakan, "Dia telah mengubah namanya karena alasan agama, atau setidaknya orangtuanya," kata kelahiran Yahudi Iran yang tinggal di London itu . "Sabourjian dikenal sebagai nama Yahudi di Iran."

Seorang jurubicara kedutaan Israel di London, Ron Gidor, mengatakan bahwa, "Ini bukan sesuatu yang akan kami bicarakan."
Ahmadinejad tidak menyangkal namanya berubah ketika keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Tapi dia tidak pernah mengungkapkan perubahan berhubungan dengan pergantian keyakinan. Ahmadinejad tumbuh menjadi insinyur yang memenuhi syarat dengan gelar doktor dalam manajemen. Sebelum terjun jadi politisi, Ahmadinejad bertugas sebagai tentara pada Pengawal Revolusi.
Selama debat presiden di televisi tahun ini, ia dipancing untuk mengakui bahwa namanya telah berubah tapi ia mengabaikannya. Mehdi Khazali, seorang blogger internet, yang menyerukan penyelidikan akar nama Presiden Ahmadinejad ditangkap musim panas ini.

Ahmadinejad sendiri, seperti diketahui, secara teratur mengeluarkan kritik yang ditujukan pada Israel, mempertanyakan hak Israel untuk eksis dan menolak Holocaust. Banyak yang kagum dengan keberanian Ahmadinejad ini. Tapi dengan adanya berita ini, bagaimana respon dunia internasional—terutama umat Islam? Wallohu alam bi shawab. (sa/telegraph)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/telegraph-ahmadinejad-keturunan-yahudi.htm

Iran And Israel: Fulfilling Biblical Prophecy?

Iranian thug leaders are imploring the United Nations to slap Israel around for Israel stating that nation will ruin Iran if Iran does not peace up.
"Iran's ambassador to the UN, Mohammad Khazaee, sent a letter of protest to UN Secretary-General Ban Ki-moonin which he wrote that 'there is no explanation for Israel's continuing threats against Tehran'" per netnews.com's Dudi Cohen.

Iran, the peacemaker, lets the world know that Israel is the planet's villain maximum.
Of course, Iran the peacemaker is one of the major lies spinning around the globe these days.
All of this increased tension between Iran and Israel simply underlines biblical prophecy placed alongside daily newsfeeds.

The Bible makes much of a slip of land the size of New Jersey - Israel. God has a liking for the small place and the little people. Check it out in the Scriptures for numerous examples.
Therefore, the navel of the planet - Israel - is once again bringing to headlines daily biblical names: Bethlehem, Jerusalem, Galilee, Nazareth and the like.
This geography where God incarnate ministered publicly for three years has brought history full circle at the close of the Church Age. The tiny Israel piece is THE focal point when all is said and done.
The Bible underscores, for instance, the Valley of Megiddo. There the last battle of the Church Age will take place. At its height, Christ will return in the clouds, angels and redeemed saints joining Him.
He will descend through the atmosphere, His feet touching the Mount of Olives, splitting it in half from east to west. From there He will proceed to the Holy City to rule for a thousand years. His saints will rule alongside Him as "priests and kings," that is, in religion and politics.

Israel is the Holy Land. It is where God called Abraham to establish the "people of God." Abraham's line would trace down through history to the Messiah's appearance in Bethlehem.
It would be in this Israel that Messiah Christ would proclaim Himself to be the Savior of repentant humanity. It was in that locale that He was murdered, then rose from the dead, ascending to be seated at the right hand of God the Father.
It has been Israel that has continued to be the center of the most significant religious and political happenings worldwide. Now today all eyes continue to scan Israel for the latest tremor, promise and confusion.
No wonder Islam threatens the Holy Land. Just as the devil has always salivated to take the throne of God in heaven, Iran's rule screeches out threats against Israel.
Demons don't stand a chance. God is God. God tops demons. God will possess His land by the rule of the Son Christ. God will squash the Islamic attacks - not because Israel deserves preserving due to its allegiance to the Messiah Christ, but because God loves His land.
In Ezekiel, God prophesied that He would bring back His Holy Land, furnishing it agriculturally and urban-wise - not because the Israelis deserve all that, but to vindicate His holy name.
Even now God is in the process of vindicating His holy name. God God God is written all over present-tense Israel, and will continue to be so until the sky splits open with the King of Kings ruffling the planet's surface with the greatest earthquake ever experienced.

Never take your eyes off Israel. Note Iran's bad-mouthing Israel. Then watch how God works through both components to establish biblical prophecy - piece by piece.

http://www.postchronicle.com/religion/article_212262442.shtml?ref=rss

Mufti Pegunungan LEBANON: HEZBULLAH Sama Bahayanya Dengan ISRAEL!!

Perang yang berkecamuk baru-baru ini di LEBANON sungguh sangat mengkhawatirkan. Itu mengingatkan perang saudara di sana yang dulu pernah terjadi selama bertahun-tahun. Bedanya, bila dulu terjadi antara Muslim dan Kristen Lebanon, tetapi kini terjadi antara Syi’ah yang diwakili HEZBULLAH dan Pemerintah Lebanon, yang didukung kaum SUNNI dan Kristen.

Hal inilah yang diungkapakn Syaikh Mohammed Ali Gouzou, mufti Pegunungan Lebanon (PL). Ia menegaskan, dengan ditingkatkannya serangan oleh Hezbullah di Beirut tidak lain hanya ingin menghinakan kaum SUNNI Lebanon. Ia menyatakan dengan keras, IRAN berada di balik semua apa yang terjadi di Lebanon saat ini.

Dalam keterangan persnya kepada surat kabar ‘El Watan,’ yang terbit di Kuwait, Syaikh Gouzou mengatakan, “Kengototan HEZBULLAH dalam sikap kriminalnya bertujuan untuk meletakkan tangannya atas bumi Beirut dan memaksakan persyaratannya atas pemerintah Lebanon yang sah.” Ia menilai, ancaman-ancaman yang dilontarkan Hezbullah terhadap media massa ‘Kelompok Masa Depan,’ merupakan teror resmi.

Ia menjelaskan, HEZBULLAH telah menyatakan perang membabi buta terhadap Beirut dan perkampungan yang dihuni kaum Sunni hanya karena masalah sepele, yaitu masalah adanya jaringan telepon yang mereka kelola dinyatakan ilegal oleh pemerintah. Ia menyiratkan, “Seharusnya pihak Hezbullah berdialog dengan pemerintah Lebanon dalam masalah ini ketimbang kita menemukan bergugurannya korban tewas setiap hari, seakan-akan kami adalah musuh, bukan ISRAEL.!”

IRAN Di Balik Apa Yang Terjadi Di LEBANON

Mufti PL itu menegaskan, Hasan Nasrullah, sekjen HEZBULLAH telah berubah, dari memerangi ISRAEL kini beralih membunuhi orang-orang tak berdosa dan menimbulkan isu sektarian. Ia menyatakan dengan tegas, Iran berada di balik apa yang terjadi di Lebanon, di mana senjata milik Hezbullah berikut harta bendanya berasal dari IRAN.!

Gouzou mengeritik duta besar IRAN di Lebanon karena berbicara seakan-akan merupakan salah satu pihak yang berseteru di Lebanon. Dalam waktu yang sama, ia juga mengecam permusuhan HEZBULLAH terhadap mantan presiden Lebanon yang tewas, Rafiq El Harieri yang telah membangun Lebanon.

Ia menyiratkan, Rafiq El Harieri telah memberikan bantuan yang berlimpah kepada Syi’ah, menanggung pendidikan anak-anak serta merawat korban luka dan tewas mereka. Ia bertanya-tanya, “Kenapa bandara dihentikan aktifitasnya dan perusahaan penerbangan dilarang beroperasi.?” “Kenapa permusuhan ini beralih ke Saad El Harieri (putra Rafiq El Harieri-red) setelah ayahandanya wafat.?”

Syaikh Gouzou menyatakan rasa sedihnya karena warga Lebanon kini tidak dapat lagi berjalan dengan aman di jalan raya dan merasakan kematian menunggu mereka di setiap tempat.
Ia juga menegaskan, HEZBULLAH telah menyingkap wajah terorisnya yang sangat fanatik dan keras kepala. Ia menyiratkan, HEZBULLAH ingin menghinakan kaum SUNNI.

Syaikh Gouzou juga mengingatkan umat Islam di seluruh dunia agar tidak tertipu dengan slogan-slogan ‘palsu’ HEZBULLAH.! Ia menjelaskan, HEZBULLAH bersembunyi di balik slogan perjuangan agar dapat menyusup ke jalan-jalan yang dihuni komunitas Muslim Sunni, lalu menimbulkan fitnah di setiap tempat di negeri itu.

Mufti PL itu menyudahi dengan menegaskan, HEZBULLAH amat berbahaya bagi semua orang, bukan hanya Lebanon. Karena itu, bahaya ini harus dihadapi bersama-sama, sebab bahaya yang ditimbulkannya itu tidak kurang dari bahaya yang ditimbulkan ISRAEL.!! (almkhtsr/AS)

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatakhbar&id=755

Di Sebalik Tragedi Muharram

Apabila tiba bulan muharram, umat Islam sering dihidangkan dengan kisah kekejaman salah seorang khalifah Islam yang terdiri dari kalangan khalifah Bani Umaiyah iaitu Khalifah Yazid bin Mu'awiyah r.a. dan turut dihidangkan sama kisah-kisah penderitaan anak cucu Nabi Muhammad s.a.w. terutamanya Sayyidina Husain r.a. yang kononnya menjadi mangsa kekejaman Yazid.

Namun begitu sejauhmanakah kebenaran kisah-kisah tersebut ataupun ianya tidak lebih dari cerita-cerita penglipurlara golongan yang memusuhi sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Peristiwa ini jugalah yang menyebabkan umat Islam dengan mudah menelan segala cerita khayalan dan fantasi mengenai kejahatan serta kebejatan khalifah Yazid yang diada-adakan oleh musuh-musuh Islam dengan maksud untuk memadamkan kegemilangan sejarah pemerintahan serta tamaddun Islam.

Kalau dilihat sejenak kepada kitab-kitab sejarah maka akan ditemui banyak percanggahan berkenaan peristiwa tersebut. Di dalam sesetengah kitab terdapat riwayat yang menunjukkan bahawa golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain r.a. ialah tentera Yazid namun di dalam kitab yang sama tetapi di tempat yang lain pula disebutkan Syi'ah Iraqlah (Kufah) yang bertanggungjawab dalam peristiwa tersebut. Dan kalaulah diperhatikan kepada semua riwayat yang memuatkan cerita-cerita tersebut baik yang khusus berkenaan pembunuhan Sayyidina Husain r.a. di tangan Yazid serta kisah kejahatan dan amalan buruk Yazid ianya tidak lebih daripada rekaan golongan yang ditolak periwayatan mereka oleh ulama-ulama ilmu rijal (ilmu untuk menilai pewarta).

Antara cerita daripada perawi-perawi tersebut ialah apa yang dikemukakan oleh Imam Thabari dan Imam Ibnu Kathir daripada Abu Mikhnaf Lut bin Yahya (Tarikh Thabari jilid 3 hal.305-342 dan Al-Bidayah Wan Nihayah jilid 8 hal. 217),Al-Baladzuri daripada Al-Waqidi (Ansabul Ashraf jilid 4 hal. 21-30) begitu juga Ibnu Sa'ad (Tabaqat Ibnu Sa'ad) dan lain-lain lagi seperti Ibnu 'Asakir (Dalaailun Nubuwwah), Khalifah bin Khayyat (Tarikh Khalifah bin Khayyat), Al-Mas'udi (Murujuz Zahab), Al-Ya'kubi (Tarikh Ya'kubi). Kalau diperhatikan kepada semua riwayat berkenaan Khalifah Yazid ianya berpunca daripada mereka berdua serta Muhammad bin Zakaria Al-Ghallabi, Umar bin Syabbah dan Muhammad bin As-Saib Al-Kalbi bahkan boleh dikatakan 90 peratus peristiwa Karbala ini berpunca daripada Abu Mikhnaf.

Lalu jika diteliti siapakah mereka itu maka akan didapati mereka adalah golongan yang ditolak periwayatannya oleh ulamak-ulamak muktabar. Antaranya ialah Muhammad bin Umar yang lebih dikenali dengan gelaran Al-Waqidi. Ibnu Hajar menyebutkan dalam "Lisanul Mizan" dengan katanya, "Seorang yang ditinggalkan periwayatannya walaupun luas ilmunya"(jilid 3 hal. 288). Ibnu Ma'in berkata, "Seorang yang tidak ada nilainya"(Tarikh Ibnu Ma'in jilid 2 hal. 532). Abu Hatim, Nasaie berkata, "Riwayatnya ditolak" dan Imam Abu Zur'ah berkata, "Seorang yang lemah riwayatnya" (Al-Jarh Wat-Ta'dil juz 8 hal. 20 dan Adh-Dhu'afaa' lin Nasaie hal 557).

Berkenaan dengan Abu Mikhnaf pula Imam Zahabi menyebutkan dalam "Mizanul I'tidal" bahawa "Beliau seorang yang tidak boleh dipercayai", Abu Hatim dan lain-lain ulama jarh dan ta'dil telah meninggalkannya (tidak menerima riwayatnya). Daaraqutni berkata, "Dia seorang yang lemah". Ibnu Ma'in berkata, "Dia seorang yang tidak boleh dipercayai". Murrah berkata, "Dia seorang yang tidak bernilai", dan Ibnu 'Adiy berkata, "Dia adalah seorang Syi'ah, pereka cerita ".(Mizanul I'tidal juz 3 hal 419)

Begitulah juga keadaan perawi-perawi yang lain bagi peristiwa tersebut. Riwayat-riwayat mereka langsung tidak ada nilainya di sisi ulamak-ulamak ilmu rijal. Untuk mengetahui kedudukan mereka boleh dirujuk kitab-kitab rijal seperti Lisanul Mizan, Mizanul I'tidal, Al-jarh Wat-Ta'dil, Adh-Dhu'afaa Ibni 'Adiy, Adh-Dhu'afaa Lin Nasaie dan lain-lain lagi.

Di satu sudut lain pula di dalam kitab-kitab sejarah, catatannya adalah berlainan dari apa yang tersebar dalam masyarakat umat Islam umumnya. Antaranya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Kathir bahawasanya bilamana Muhammad bin Ali Al-Hanafiah (anak Ali r.a.) diajak supaya memberontak terhadap Yazid maka beliau berkata, "Sesungguhnya saya telah datang menemuinya dan tinggal bersamanya beberapa lama maka saya dapati ia seorang yang kuat menjaga solat, suka kepada kebaikan, selalu bertanya tentang masalah feqah dan berpegang teguh kepada sunnah. (Al-Bidayah Wan Nihayah jilid 8 hal. 233).

Sejarawan Al-Baladhzuri telah mengemukakan satu riwayat bahawa Amir bin Mas'ud Al-Jumahi berkata,"Ketika saya berada di Makkah, datang seorang membawa berita tentang kematian Mu'awiyah r.a.. Kami pun bangun dan pergi menemui Ibnu Abbas r.a. yang ketika itu juga berada di Makkah, di samping beliau ada beberapa orang sedang duduk. Hamparan hidangan sudahpun dibuka tetapi makanan belum lagi dihidangkan pada ketika itu. Maka kamipun berkata kepadanya, "Hai Ibnu Abbas! Utusan datang membawa berita kematian Mu'awiyah. Mendengar berita itu beliau terdiam beberapa lama. Kemudian beliau pun berkata, "Ya Allah! Perluaskanlah rahmat untuk Mu'awiyah. Demi Allah, bukanlah dia sama seperti orang-orang sebelumnya dan tidaklah pula akan datang sesudahnya orang sepertinya. Sesungguhnya anaknya Yazid adalah salah seorang yang soleh dari ahli keluarganya. Oleh itu hendaklah kamu berada di tempat masing-masing dan serahkan ketaatan dan bai'ah kamu kepadanya". (Ansabul Ashraf jilid 2 hal 2).

Imam Ali Zainal Abidin walaupun pernah beberapa lama bersama dengan Yazid selepas kesyahidan ayahnya Husain r.a. serta keluarganya di Karbala namun tidak ada satupun riwayat daripada beliau yang menyebutkan bahawa Yazid ada melakukan perkara-perkara buruk seperti minum arak, meninggalkan solat bahkan beliau adalah orang yang memberikan taat setia kepada Yazid sehingga enggan untuk turut sama dalam pemberontakan terhadap Yazid selepas itu. (Mawaqiful Mu'aradhah hal.383)

Antara sahabat agung yang pernah bersama Yazid adalah Nu'man bin Basyir dan Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib r.a. Mereka berdua juga tidak pernah menyebutkan bahawa Yazid melakukan amalan-amalan maksiat tersebut sebagaimana yang disebarkan oleh orang-orang seperti Abu Mikhnaf.

Kitab-kitab sejarah juga menggambarkan kesetiaan sahabat-sahabat r.a. yang masih hidup kepada kepimpinan Yazid dan keengganan mereka untuk memberontak terhadap Yazid walaupun didorong supaya berbuat demikian bahkan lebih dari itu mereka memberi nasihat pula kepada golongan yang ingin memberontak termasuk kepada Husain r.a. sendiri. Antara mereka adalah Abu Sa'id Al Khudri, Jabir bin Abdullah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Waqid Al-Laithi r.a. dan lain-lain lagi.(lihat Al-Bidayah Wan Nihayah jilid 8 hal 176, Tarikh Thabari jilid 4 hal 254 dan 288).

Apabila kelihatan dua kenyataan sejarah berkenaan dengan Yazid yang saling bercanggah, bagaimanakah cara untuk mengkompromikannya? Bagi Ahlus Sunnah Wal Jamaah sepatutnya tidak melupakan catatan sejarah di dalam kitab paling sahih di sisi mereka selepas Al-Quran di mana Imam Bukhari mengemukakan satu riwayat daripada Ibnu Abi Nu'min bahawa dia berkata, "Aku mendengar Ibnu Umar r.a. ditanya oleh seseorang (penduduk Iraq) tentang seorang yang memakai ihram lalu dia membunuh lalat (apakah dendanya)? Lantas Ibnu Umar r.a. menjawab, penduduk Iraq bertanyakan tentang (denda) membunuh lalat? Sedangkan mereka telah membunuh anak lelaki kepada anak perempuan (cucu) Rasulullah s.a.w.". (Sahih Al-Bukhari, Kitabul Manaqib jilid 1 hal. 531).

Bukankah jelas di dalam riwayat ini Ibnu Umar r.a. mengisyaratkan bahawa pembunuh cucu Rasulullah s.a.w. itu adalah penduduk Kufah? Jadi mana-mana riwayat yang bertepatan dengan isyarat di dalam riwayat sahih ini maka ia menjadi penguat kepada riwayat tersebut dan sebaliknya mana-mana riwayat yang bertentangan dengan riwayat yang sahih maka ia tidak boleh diterima lagi.

Kerana itu ulama Ahlus Sunnah ada di antaranya dengan jelas mengatakan bahawa pembunuh Sayyidina Husain r.a. yang sebenarnya bukanlah Yazid. Antaranya Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya' Ulumiddin mengatakan, "Sesungguhnya tidak terbukti sama sekali bahawa Yazid yang membunuh Husain r.a. Kerana itu tidak harus untuk dikatakan bahawa beliaulah yang membunuh Husain r.a. ataupun yang memerintahkannya, apatah lagi untuk melaknatnya kerana tidak harus menisbahkan seseorang muslim kepada suatu dosa besar tanpa sebarang kepastian". (Ihya' Ulumiddin jilid 3 hal 134)

Ibnus Solah mengatakan, "Tidak sahih di sisi kita bahawa Yazid telah memerintahkan supaya Husain r.a. dibunuh". (Fatawa Wa Masaail Ibnus Solah jilid 1 hal 216).

Ibnu Hajar sendiri selepas mengemukakan hadis berkenaan tentera yang mula-mula merentasi lautan berkata, "Imam Muhallab berkata, Hadis ini menunjukkan kedudukan yang mulia untuk Mu'awiyah r.a. kerana dialah orang yang mula-mula berperang merentasi lautan dan juga kedudukan mulia anaknya Yazid kerana dialah orang yang mula-mula memerangi Bandar Qaisar". (Fathul Bari jilid 6 hal. 114)

Bahkan Imam Ibnu Kathir selepas mengemukakan riwayat-riwayat sejarah tersebut telah membuat komentar dengan katanya," Syi'ah Rafidhah telah melakukan banyak pembohongan dan membawa khabar-khabar yang tidak benar sama sekali di dalam cerita-cerita kesyahidan Husain r.a.. Kisah-kisah yang telah dikemukakan sudahpun memadai. Kalaulah tidak kerana imam-imam sejarah seperti Ibnu Jarir At-Thabari dan lain-lain menyebutkannya tentu sekali saya juga tidak akan mengemukakannya. Kebanyakannya adalah melalui riwayat Abu Mikhnaf Lut bin Yahya sedangkan dia adalah seorang Syi'ah dan dia adalah seorang yang lemah dalam periwayatan menurut tokoh-tokoh sejarah. (Al-Bidayah Wan Nihayah jilid 8 hal. 220)

Bagi golongan Syi'ah pula sepatutnya tidak lupa untuk mengkaji catatan ulama-ulama muktabar di dalam kitab-kitab utama pegangan mereka. Umpamanya di dalam Al-Ihtijaj 'Ala Ahlil Lajaj, Ahmad bin Ali bin Abi Talib At-Thabarsi menulis bahawa Imam Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain r.a. yang ikut serta dalam rombongan Husain r.a. ke Kufah telah berkata kepada penduduk Kufah, "Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasanya kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu lakukan untuk dirimu".(Al-Ihtijaj juz 2 hal. 306)

Pada halaman sebelumnya At-Thabarsi mengemukakan kata-kata Fatimah As-Shughra anak perempuan Sayyidina Husain r.a. kepada penduduk Kufah, "Wahai Penduduk Kufah, wahai pembelot dan pengkhianat! Kami adalah Ahlul Bait yang Allah Ta'ala menguji kami dengan kamu dan menguji kamu dengan kami," seterusnya selepas memuji-muji kedudukan Ahlul Bait beliau berkata lagi, "Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami sebagaimana kamu telah membunuh datuk kami Ali r.a.. Pedang-pedang kamu sentiasa menitiskan darah-darah kami Ahlul Bait".(Al-Ihtijaj juz 2 hal 302).

Mulla Baqir Al-Majlisi yang diberikan gelaran Khatimatul Muhaddithin (penyudah kepada ahli-ahli hadis) di sisi Syi'ah menukilkan kata-kata Sayyidina Husain r.a. kepada Syi'ah Kufah yang telah bersiap untuk bertempur dengan beliau,"Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh dalam menentang kami".(Jilaau Al' Uyun,hal 391).

Di dalam kitab A'yanus Syi'ah pengarangnya Sayyid Muhsin Al-Amin mengatakan bahawa "seramai dua puluh ribu penduduk Iraq telah berbai'ah kepada Husain kemudian mereka mengkhianatinya lalu memberontak terhadapnya dalam keadaan bai'ah masih lagi berada di tengkuk-tengkuk mereka dan membunuhnya".(A'yanus Syi'ah jilid 1 hal 34).

Dan banyak lagi kitab-kitab Syi'ah menukilkan perkara yang sama seperti Al-Irsyad Syeikh Mufid hal. 234, I'lamul Wara hal. 242, Kasyful Ghummah jilid 2 hal 18 dan lain-lain lagi.

Berdasarkan kepada segala fakta yang dikemukakan di atas dapatlah disimpulkan bahawa segala cerita berkenaan kezaliman Yazid dan tenteranya tidak lebih daripada dongengan yang datangnya dari kilang-kilang Syi'ah terutamanya Abu Mikhnaf Lut bin Yahya. Kerana itulah tidak akan ditemui riwayat-riwayat tersebut di dalam mana-mana kitab bertaraf sahih di sisi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Riwayat sahih yang ada sebagaimana yang telah dikemukakan sebelum ini begitu jelas bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab sejarah. Bahkan kalau dikaji apa yang terdapat di dalam kitab-kitab Syi'ah yang merupakan rujukan utama mereka seperti Al-Ihtijaj, Al-Irsyad dan lain-lain akan didapati perkara sebaliknya iaitu pembunuh Husain yang sebenar adalah penduduk Kufah yang terkenal sebagai golongan Syi'ah


Upacara 10 Muharram

Setiap tahun tanggal 10 Muharram penganut-penganut Syi'ah akan mengadakan upacara pengkabungan kononnya sebagai tanda memperingati kematian Imam Husain. Mereka akan mengadakan pelbagai upacara seperti menampar-nampar muka dan dada, menyiksa diri dengan melukakan tubuh serta kepala dengan pisau-pisau kecil bahkan ada yang menggunakan pedang sehingga tubuh dibasahi darah. Di samping itu seorang dari kalangan mereka yang di gelari dengan nama "Zakir Husain" akan mengumandangkan syair-syair ratapan menceritakan penderitaan Ahlul Bait Rasulullah s.a.w. dan kezaliman yang dilakukan terhadap mereka diselangi dengan caci maki terhadap Bani Umayyah dan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. yang dianggap mereka sebagai perampas hak Ahlul Bait.

Namun begitu apakah amalan tersebut merupakan ajaran Imam-imam yang dianggap maksum oleh mereka? Jawapannya akan ditemui setelah ditinjau dari perspektif ajaran Ahlus Sunnah dan Syi'ah.

Ahlus Sunnah sepakat bahawa amalan tersebut merupakan amalan jahiliyyah dan diharamkan berdasarkan kepada hadis daripada Rasulullah s.a.w. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadis daripada Ibnu Mas'ud r.a. bahawa Nabi s.a.w. telah bersabda, "Bukan dari kalangan kami orang yang memukul-mukul pipi, mengoyak-ngoyak kolar baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah."(Sahih Bukhari Kitabul Janaaiz dan Muslim Kitabul Iman). Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asy'ari bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda." Meratap adalah termasuk dari amalan jahiliyyah, orang yang meratap bilamana dia meninggal dunia dalam keadaan tidak sempat bertaubat, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari minyak tar (yang panas) dan baju dari nyalaan api neraka".(Sunan Ibnu Majah bab larangan dari meratap).

Dua hadis yang tersebut di atas membuktikan bahawa amalan tersebut dilarang oleh Rasulullah s.a.w. dengan disertai janji azab di hari kiamat kelak bagi orang yang melakukannya. Kerana itu tidak ada ulama dari kalangan Ahlus Sunnah yang mengharuskannya apa lagi untuk melakukannya serta menjadikannya sebagai satu syiar.

Akan tetapi ada di kalangan ulama Syi'ah mengharuskan amalan tersebut. Di antara mereka Ayatullah Al-Uzma Jawad At-Tibrizi mengatakan, "Syi'ah pada zaman Imam-imam a.s. hidup dalam keadaan taqiyyah (menyembunyikan pegangan mereka serta menyatakan tidak sebagaimana yang dianuti). Oleh itu tidak terdapatnya syiar-syiar sebegini pada zaman mereka bukan menunjukkan amalan tersebut tidak di syariatkan untuk zaman ini. Andaikata Syi'ah pada zaman mereka hidup di zaman ini sudah tentu mereka akan melakukan sebagaimana yang kita lakukan ini seperti menaikkan bendera-bendera hitam dalam menghidupkan upacara mengingati Imam Husain begitu juga di rumah-rumah untuk menyatakan kesedihan".(Lampiran Siratun Najah Imam Khu’ie jilid 2 hal 562 soalan 1741).

Daripada fatwa yang dinyatakan oleh At-Tibrizi tersebut timbul satu persoalan, "Bukankah Imam Maksum menyuruh supaya kamu menyembunyikan agama kamu kerana ianya membawa kepada kemulian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Kulaini di dalam kitab paling sahih di sisi Syi'ah iaitu Al-Kafi daripada Imam Jaa'far As-Sadiq a.s. bahawa ia berkata kepada Sulaiman bin Khalid, "Sesungguhnya kamu berada di atas agama yang mana sesiapa yang menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan sesiapa yang menzahirkannya akan dihina oleh Allah. (Al-Kafi jilid 2 hal 223)

Berdasarkan kepada dua hadis melalui riwayat Ahlus Sunnah dan fatwa daripada At-Tibrizi di atas, berlaku pertembungan antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah dalam persoalan berkaitan ratapan dan perkabungan ini. Bagaimana pula pendapat Imam-imam Ahlul Bait? Apakah ianya bertepatan dengan apa yang diamalkan oleh penganut Syi'ah sekarang atau sebaliknya? Untuk mengetahui pegangan mereka perlulah dilakukan kajian berdasarkan kitab-kitab muktabar Syi'ah sendiri.

Di dalam Nahjul Balaghah, Syarif Radhi mengemukakan kata-kata Sayyidina Ali r.a. yang bermaksud,"Sesiapa yang memukul tangannya ke atas pahanya ketika ditimpa musibah maka binasalah amalannya".(Nahjul Balaghah juz 4 hal. 34). Al-Kulaini juga mengemukakan kata-kata yang sama daripada Imam Jaa'far As-Sadiq.(Al-Kafi jilid 3 hal 225). Sayyidina Ali r.a. juga menghubungkan amalan tersebut dengan amalan jahiliyyah sebagaimana yang dinukilkan oleh Mulla Baqir Al-Majlisi dengan katanya,"Tiga perkara termasuk dari amalan jahiliyyah di mana manusia melakukannya secara berterusan, memohon hujan dengan bintang, mencela keturunan orang lain dan meratapi kematian seseorang."(Biharul Anwar jilid 82 hal 101). Ibnu Babuwaih Al-Qummi yang digelarkan dengan As-Saduq (seorang yang sangat benar) menyebutkan bahawa antara ucapan Rasulullah s.a.w. ialah "Meratap termasuk dari amalan Jahiliyyah".(Man Laa Yahdhurul Faqih jilid 4 hal 271). Di tempat yang lain beliau menukilkan kata-kata Imam Ali yang bermaksud,"Jangan memakai pakaian hitam kerana ia adalah pakaian Fir'aun". (ibid hal 51)

Apa yang dikemukakan diatas merupakan sebahagian riwayat daripada Imam-imam Ahlul Bait yang jelas mengeluarkan amalan tersebut daripada ajaran Islam. Bahkan jika dinilai amalan tersebut ianya langsung tidak bersesuaian dengan agama Islam yang suci dan fitrah manusia. Fitrah yang suci sudah pasti tidak akan dapat menerima sesuatu amalan yang mendatangkan siksaan serta kesakitan kepada tubuh badan sebagai satu ajaran agama yang suci.

Kalau begitu apakah maksud sebenar penganut Syi'ah mengadakan upacara-upacara tersebut? Amalan tersebut jika diteliti dari pelbagai sudut sekalipun tidak mendatangkan sebarang kebaikan bahkan mendatangkan keburukan dan kesakitan pula di samping membuang masa serta berlakunya pembaziran. Apakah dengan upacara tersebut penganut Syi'ah akan dapat mengheret pembunuh Sayyidina Husain serta dapat menghalang Imam mereka daripada dibunuh? Sayyidina Husain r.a. sudahpun mendapat kemulian syahid dan sudah pasti ia berada di Syurga sebagaimana sabda Nabi s.a.w. bahawa dia adalah salah seorang penghulu pemuda syurga. Begitu juga yang pasti pembunuhnya sudahpun mendapat pembalasan dari Allah Ta'ala di samping menunggu balasan yang lebih dahsyat lagi andaikata tidak sempat bertaubat sebelum kematiannya.

Di samping itu apakah maksud mereka mengungkapkan caci maki terhadap Bani Umayyah di dalam upacara tersebut? Bukankah Allah Ta'ala memerintahkan supaya mendoakan keampunan kepada orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan beriman. Andaikata penganut Syi'ah mengatakan maksud mereka adalah untuk mengenang perjuangan yang dilakukan umat terdahulu serta membangkitkan semangat penentangan terhadap golongan yang melakukan kezaliman terhadap umat Islam terutamanya Ahlul Bait, kenapa tidak dilakukan ratapan terhadap kesyahidan abangnya Hasan atau ayahnya Ali r.a?. Sedangkan Sayyidina Ali syahid di tangan golongan yang di terima sebagai sesat oleh Ahlus Sunnah dan Syi'ah. Apakah kesyahidan Husain r.a. adalah lebih besar lagi daripada ayahnya?. Ataupun mengapa tidak dilakukan perkabungan ke atas Hamzah r.a. bapa saudara Nabi s.a.w. yang syahid di tangan musuh Islam dalam peperangan bersama Rasulullah s.a.w.? Atau mengapa tidak perkabungan di atas kematian Rasulullah s.a.w. sendiri?

Jawapannya adalah dengan meneliti amalan yang dilakukan dalam upacara perkabungan tersebut. Antaranya menggembar-gemburkan kezaliman serta kekejaman yang dilakukan Yazid dan tenteranya terhadap Sayyidina Husain r.a. dan keluarganya dalam keadaan dunia sudahpun mengakui bahawa Yazid adalah seorang pemimpin bagi Umat Islam dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kalaulah tujuan dibangkitkan dan dikemukakan sejarah kekejaman dan kezaliman yang dilakukan oleh Yahudi baik dahulu dan kini adalah dengan maksud untuk membangkitkan kebencian terhadap mereka di samping keinginan untuk membalas dendam terhadap mereka, maka tidak salah untuk mengatakan maksud mengadakan upacara perkabungan terhadap Sayyidina Husain r.a. dengan mengulangi sebutan kezaliman Yazid dan Bani Umayyah adalah dengan tujuan serta maksud yang sama terhadap golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. 



Dari blog abunaaielah.blogspot.com